Monday, October 3, 2016

MOS MASA ORIENTASI DI PM DARUSSALAM GONTOR

MASA ORIENTASI DI PM DARUSSALAM GONTOR Ada upaya mengubah Masa Orientasi Sekolah (MOS) oleh Mendikbuddasmen, Anis Baswedan, dari yang menakutkan, penuh caci maki yang mempermalukan, menjadi lebih orientatif, memperkenalkan atau mengarahkan siswa kepada program sekolahnya selama 3 tahun ke depan (SMTP dan SMTA). Sayang, upaya itu, agaknya, sekadar pemantauan yang melibatkan kepala sekolah, dan —ini anehnya— juga pemerintah daerah setempat. Memang, program yang bagus, jika tidak diikuti dengan konsep dan pelaksanaan tepat, akan sia-sia. Kemungkinan besar, pelibatan itu tidak gratis, butuh biaya (baca: honor).

Kami tidak bermaksud mengajari, melainkan sekadar memberi informasi, bahwa di Pondok Modern Darussalam Gontor (PM Gontor), masa orientasi siswa sangat berbeda, baik materi maupun metode penyampaiannya, justru berlangsung sangat menyenangkan. Meskipun dinamakan pekan perkenalan, pelaksanaannya lebih dari satu bulan, bahkan bisa sepanjang tahun. Apa yang dilakukan oleh PM Gontor? Berikut ceritanya.


Masa orientasi di PM Gontor dinamakan Pekan Perkenalan Khutbatu-l’Arsy (PPKA). Genderang awalnya, sebenarnya, sudah dipukul sejak awal tahun pelajaran, ketika semua santri telah siap masuk asrama dan menerima pelajaran di dalam kelas. Ketika itu, di masing-masing asrama, dibacakan sejumlah peraturan/disiplin. Menariknya, peraturan itu hanya akan dibaca sekali saja, tidak ada ulangan. Lantas, semua santri, lama dan baru, wajib mengingatnya jika tidak ingin terkena sanksi disiplin. Tradisi ini dinamakan “tengko” (‘teng komando’), awal dimulainya disiplin. Bagi santri lama, siswa kelas 2–4, semua aturan itu sudah mereka hafal, demikian pula konsekuensi pelanggarannya. Setidaknya, peraturan itu menyangkut 3 jenis: disiplin berpakaian, disiplin waktu, dan disiplin bahasa. Lainnya, berupa kesepakatan-kesepakatan sosial di antara santri yang mentradisi sejak bertahun-tahun, dan dikukuhkan.
Adapun secara resmi, PPKA dibuka dalam sebuah acara seremonial yang cukup “wah” dan kolosal di lapangan sepakbola utama milik pondok. Diawali dengan upacara bendera, acara dilanjutkan dengan atraksi-atraksi. Pertama, unjuk giginya Marching Band santri, “Gema Nada Darussalam.” Cara pasukannya menapaki lapangan, dengan hentakan ritmis kaki yang ditingkah pukulan perkusi, cukup menguras emosi. Ada rasa bangga, haru, syukur, menjadi bagian dari PM Gontor, perasaan yang juga melanda semua ahli Gontor.
Berikutnya, penampilan sejumlah kesenian daerah. Secara bergiliran, para santri dari masing-masing etnis dan daerah menampilkan keseniannya, di antaranya, dari Riau, Minangkabau, Betawi, Bengkulu, Sunda, Ponorogo, hingga Bali, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Jelas, momen itu sangat orientatif, mendidik, dan menghibur.
Atraksi-atraksi berlalu, digantikan parade berbagai kendaraan fungsional milik pondok, mulai roda dua, hingga roda 8. Hari itu, pondok ingin menunjukkan kekuatannya; kekayaan dan perkembangan wakafnya kepada para santri, sebagai ungkapan rasa syukur, tahadduts bi al-ni‘mah. Terakhir, parade barisan guru-guru, mahasiswa, dan barisan siswa berdasarkan konsulat (sebutan untuk ‘asal daerah’), mulai dari Aceh hingga Papua. Barisan konsulat tadi, setelah memberikan hormat ke panggung kehormatan, lantas berkeliling desa tetangga, radius 3 kilometer. Kerapian barisan itu dinilai oleh guru. Juaranya mendapat trofi dari Pimpinan Pondok. Tak kurang dari 5000 orang berpartisipasi pada acara “show of forces” ini.
Pukul 11.00, seluruh siswa dan guru berkumpul di Aula pondok untuk mendengarkan “Khutbatu-l-‘Arsy” (‘pidato utama’) dari otoritas tertinggi pondok (Pimpinan Pondok). Pidato itu merupakan dasar orientasi; penjelasan awal secara rinci tentang apa itu pondok, milik siapa, mengapa sistem sekolahnya dinamakan Kulliyyatu-l-Mu‘allimin al-Islamiyyah (KMI); tujuannya kemana, apa yang dipelajari, kemana orientasi kelulusannya, dst., dalam sebuah “Kuliah Umum.” Mengingat pentingnya, orientasi tentang pondok itu disampaikan sejelas-jelasnya, berbabak-babak, bahkan, bisa memakan waktu 3–5 hari, di pagi dan malam hari. Karena merupakan lembaga pendidikan partikelir penuh, hal itu tidak masalah. Pondok dapat diatur secara mandiri, tidak terpengaruh sistem yang lain.
Orientasi ideologis itu, selanjutnya, diteruskan dengan membaca buku di dalam kelas, yakni buku Diktat Pekan Perkenalan Khutbatu-l’Arsy (semacam “kitab suci” santri Gontor), telah disusun berbilang tahun lalu oleh pendiri. Bahasanya sederhana, mudah dipahami. Isinya mudah dijalankan.
Pekan Perkenalan masih terus berjalan. Hampir setiap malam, setelah Kuliah Umum, digelar pentas seni di Aula. Ada pentas kesenian daerah, demonstrasi bahasa, lomba grup vokal, lomba menyanyi dan baca puisi, serta pembagian hadiah. Sajian ini wajib ditonton oleh siswa baru (Kelas 1), dipanitiai oleh siswa kelas 3 dan 4. Sore hari atau setiap hari Jum‘at (pagi dan sore), diadakan berbagai macam lomba, baik yang bersifat pertandingan, perlombaan, maupun permainan atau adu ketangkasan; bertempat di depan aula, beberapa sudut kampus, dan lapangan sepakbola.
Pada suatu minggu tertentu, selama 4 hari digelar Jambore dan Raimuna. Di Gontor disebut Lomba Perkemahan Penggalang dan Penegak (LP3). Lebih dari 1000 orang panitia dan peserta terlibat dalam pestanya para pramuka ini, yaitu para pramuka dari pondok-pondok alumni Gontor. Lapangan sepakbola pun menjadi lautan kemah. Secara bergiliran, santri baru wajib mengunjungi perkemahan ini, sebagai orientasi.
Puncak dari PPKA adalah dipentaskannya karya seni dari siswa Kelas 5 dan Kelas 6 pada hari yang berbeda. Berbagai jenis kesenian dan atraksi ditampilkan selama 4 jam penuh, pukul 20.00–24.00 WIB, melibatkan lebih dari 900 orang, dan menelan biaya ratusan juta rupiah. Untuk siswa Kelas 5, pentas seni itu disebut Drama Arena (DA), ditampilkan murni oleh siswa Kelas 5. Sedangkan pentas seni yang dimotori oleh siswa Kelas 6 disebut Panggung Gembira (PG), didukung oleh siswa kelas 1–4, juga guru-guru. Para wali kelas dari dua kelas tersebut bertindak sebagai pembimbing.
Materi kesenian yang ditampilkan, di antaranya, seni tari, seni musik, seni teater, dan terkadang akrobat. Apa saja boleh ditampilkan, asal menghibur dan mendidik. Setiap tarian daerah tidak ditampilkan oleh santri asal tari tersebut. Tari Aceh, misalnya, dipentaskan oleh santri dari Jawa, Minang, Betawi, atau Banjar. Demikian pula tari-tarian lainnya. Untuk itu, mereka berlatih selama sebulan lebih.
Demikianlah masa orientasi atau Pekan Perkenalan di PM Gontor; betul-betul orientatif. Di dalamnya tidak ada bentakan, kekerasan, keharusan mengenakan pakian aneh-aneh, bahkan lebih banyak menghibur, menyenangkan. Suasananya pun sangat khas. Baru mengikuti Pekan Perkenalan saja, siswa sudah merasa bangga menjadi santri Gontor. Karena itu, para santri selalu bergairah menyambut tahun ajaran baru.
Di PM Gontor tidak digunakan istilah “masa orientasi”, melainkan “perpeloncoan,” yakni masa ‘pengenalan dan penghayatan situasi lingkungan baru yang mengendapkan (mengikis) tata pikiran yang dimiliki sebelumnya.’ Demikian pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Maka, secara istilah, materi, dan metode, yang paling tepat adalah masa orientasi menurut PM Gontor.
Sekadar Ringkasan:
1. Masa perpeloncoan di PM Gontor berlangsung lebih dari 1 bulan;
2. Acara PPKA wajib diikuti oleh seluruh siswa, guru, bahkan oleh kyai/Pimpinan Pondok, dengan pengabsenan yang ketat, bukan hanya untuk siswa baru. Bagi siswa baru ditujukan sebagai pengenalan; bagi siswa lama dan guru-guru dimaksudkan untuk pembaharuan niat (tajdidu al-niyat).
3. Materi PPKA mencakup penjelasan ideologi, nilai, dan aneka jenis aktivitas yang ada di pondok: kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, yang juga akan dialami, dirasakan oleh semua santri;
4. Selama PPKA, tidak ada kekerasan, pelecehan, penghinaan, atau hal-hal tertentu yang dapat menimbulkan rasa takut atau malu pesertanya. Bahkan, selain pengetahuan dan pengalaman baru, peserta juga mendapatkan hiburan, dan rasa bangga;
5. Banyak nilai pendidikan karakter yang didapat santri selama PPKA, seperti nilai ukhuwwah/persatuan, keberanian, kerja sama, dan tanggung jawab. Kian banyak aktivitas yang diikuti santri, kian banyak teman yang didapat. Muaranya, santri merasa betah di pondok;
6. Program PPKA, murni, urusan intern PM Gontor. Maka, tidak perlu dan tidak boleh melibatkan pihak luar, orangtua santri sekali pun. Dengan sistemnya yang berasrama penuh, PM Gontor telah mengambil alih semua fungsi tri pusat pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Bagaimana dengan sekolah umum pada umumnya? Jauh.
Writer: Ust. Nasrulah Zarkasyi 

Related Posts

MOS MASA ORIENTASI DI PM DARUSSALAM GONTOR
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Like the post above? Please subscribe to the latest posts directly via email.